(foto bersama pelaku UMKM dalam agenda strategi pemasaran digital di desa petir. Source: Dok. Drive unnes giat 16 desa petir)
Perkembangan teknologi membuat cara masyarakat memasarkan dan membeli produk ikut berubah. Jika dulu promosi lebih banyak dilakukan dari mulut ke mulut atau mengandalkan pelanggan yang datang secara langsung, kini pelaku usaha memiliki banyak pilihan untuk memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas. Melihat peluang tersebut, Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Semarang (UNNES) turut mendorong pelaku usaha di Desa Petir untuk mulai memanfaatkan pemasaran digital.
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya Tim KKN UNNES untuk mengenalkan strategi pemasaran yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Bagi pelaku usaha di desa, pemasaran digital dapat menjadi peluang untuk memperkenalkan produk tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Cukup dengan memanfaatkan telepon genggam dan media sosial yang sudah akrab dengan kehidupan sehari-hari, produk lokal dapat dikenal oleh lebih banyak orang.
Dalam kegiatan tersebut, Tim KKN UNNES tidak hanya memberikan penjelasan mengenai pemasaran digital secara teori. Pelaku usaha diajak melihat secara langsung bagaimana sebuah produk dapat dikemas dan diperkenalkan melalui media digital. Mulai dari menentukan target konsumen, membuat foto produk yang menarik, menulis keterangan produk, hingga memilih media sosial yang sesuai menjadi bagian dari materi yang dibahas.
(foto saat tim kkn (vest pink) menyambangi salah satu pegiat umkm terkati strategi pemasaran digital. Source:Dok Drive KKN UNNES Desa Petir)
“Pokoknya mas/mba tolong dibantu supaya dagangan saya bisa laku terjual bagaimanapun caranya. Mas/mba kan yang punya pengetahuan soal ini, saya kan gatau menau soal online ini, ya pokoknya tolong dibantu lah” Ujar salah satu pelaku usaha UMKM lokal. Mayoritas penduduk petir sendiri yang mengelola UMKM hampir bisa dikatakan di dominasi oleh usia dewasa lanjut (50 tahun lebih), sehingga mereka kurang memahami dengan baik bahwa peluang di media digital, sangat terbuka lebar untuk semua kalangan.
Kegiatan pendampingan pemasaran digital ini juga sejalan dengan beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Salah satunya adalah SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, karena penguatan kemampuan pemasaran dapat membantu pelaku usaha meningkatkan penjualan, memperluas pasar, dan mengembangkan kegiatan ekonomi lokal.
Selain itu, kegiatan ini mendukung SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana inovasi dalam memasarkan produk. Pelaku usaha didorong untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan menggunakan media digital secara kreatif agar produk mereka lebih mudah dikenal oleh konsumen
Salah satu hal yang mendapat perhatian adalah bagaimana membuat sebuah produk terlihat menarik ketika ditampilkan di media sosial. Foto yang jelas, pencahayaan yang cukup, serta informasi produk yang mudah dipahami ternyata dapat membuat perbedaan dalam menarik perhatian calon pembeli. Hal-hal sederhana seperti ini sering kali dianggap sepele, padahal menjadi bagian penting dalam membangun kesan pertama sebuah produk.
Tim KKN UNNES juga mengajak pelaku usaha untuk tidak sekadar mengunggah foto produk, tetapi mulai membangun cerita di balik produk tersebut. Cerita mengenai proses pembuatan, bahan yang digunakan, keunikan produk, hingga aktivitas pelaku usaha dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi calon konsumen. Dengan begitu, media sosial tidak hanya menjadi tempat berjualan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan identitas dan potensi usaha yang ada di Desa Petir.
Pendekatan tersebut mendapat respons positif dari para pelaku usaha. Bagi sebagian dari mereka, pemasaran melalui media digital masih menjadi hal yang cukup baru. Namun, setelah mendapatkan pendampingan, mereka mulai melihat bahwa pemasaran digital sebenarnya dapat dilakukan dengan cara yang sederhana dan tidak harus selalu menggunakan strategi yang rumit.
Melalui kegiatan ini, Tim KKN UNNES berharap para pelaku usaha di Desa Petir dapat lebih percaya diri dalam memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan usahanya. Pemanfaatan media digital diharapkan tidak berhenti selama kegiatan KKN berlangsung, tetapi dapat terus dilanjutkan secara mandiri setelah program selesai.
Pada akhirnya, pemasaran digital bukan hanya tentang bagaimana sebuah produk mendapatkan pembeli. Lebih dari itu, strategi ini membuka kesempatan bagi produk-produk lokal Desa Petir untuk memiliki ruang yang lebih luas dan dikenal oleh masyarakat di luar desa. Dengan memanfaatkan teknologi secara tepat, produk yang selama ini hanya dikenal oleh lingkungan sekitar memiliki peluang untuk menjangkau konsumen yang lebih jauh.
Langkah tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi pelaku usaha desa, keberanian untuk mulai memanfaatkan dunia digital dapat menjadi awal dari perkembangan yang lebih besar. Tim KKN UNNES berharap semangat tersebut dapat terus tumbuh sehingga potensi usaha lokal Desa Petir semakin dikenal dan mampu berkembang mengikuti perubahan zaman.